Omah PinterOmah Pinter
Tips Parenting

Mendampingi anak menghadapi tantrum dengan tenang

F
Fajar Nugroho, M.Psi
5 Juni 2026 · 5 mnt baca
Mendampingi anak menghadapi tantrum dengan tenang

Tantrum adalah bagian normal dari perkembangan anak usia 1–4 tahun. Ini terjadi bukan karena anak nakal, tapi karena bagian otak yang mengatur emosi (prefrontal cortex) belum matang. Anak secara harfiah belum punya alat untuk mengelola frustrasi — maka tugas kita sebagai orang tua adalah menjadi 'otak luar' mereka sementara.

Mengapa tantrum terjadi?

Pemicunya bisa banyak: lelah, lapar, transisi kegiatan, keinginan yang tidak terpenuhi, atau terlalu banyak rangsangan. Anak yang belum bisa mengungkapkan perasaan dengan kata-kata akan mengekspresikannya melalui tubuh — menangis, berguling, memukul, atau menjerit.

Saat anak tantrum, mereka tidak sedang memanipulasi Anda. Mereka sedang kewalahan dan membutuhkan kehadiran Anda yang tenang sebagai jangkar.

Langkah konkret yang bisa dilakukan

Pertama, pastikan anak aman secara fisik. Kedua, jangan berdebat atau menegosiasi di tengah tantrum — otak emosional tidak bisa mendengar logika saat ini. Ketiga, duduk di dekat anak dengan tenang dan ucapkan, 'Mama/Papa di sini.' Keempat, setelah anak mulai tenang, beri nama emosinya: 'Tadi kamu marah karena mainan diambil, ya.' Ini mengajarkan kosakata emosi sekaligus membangun koneksi.

Jika tantrum sangat sering, sangat intens, atau berlangsung di luar usia yang wajar, konsultasi dengan psikolog anak dapat membantu memetakan penyebab dan strategi jangka panjang.

Bagikan:
📅 Booking Konsultasi

Artikel terkait